0
## Sebaik-baiknya pendidikan, masih baik pendidikan seorang ibu.
## Semahal-mahalnya biaya pendidikan di sekolah, masih mahal hasil didikan seorang ibu.
## Selembut-lembutnya pendidikan seorang guru, masih lembut tangan seorang ibu.
## Sehebat-hebatnya kualitas pendidikan guru dan sekolah, masih hebat asuhan dari seorang ibu.
## Sebaik-baik Madrasah adalah seorang ibu.

Teruntuk para ikhwah yang belum menikah ataupun yang sudah menikah, yang belum punya anak ataupun yang sudah, untuk para wanita muslimah, baik yang masih single ataupun yang sudah menikah, dan yang hendak melahirkan serta yang sudah mempunyai anak.  Sedikit saja tak perlu banyak-banyak tulisan saya kali ini.

Bismillah.....
Sebaik-baik pendidikan bagi anak-anak kita kelak adalah pendidikan dan asuhan dari seorang ibu. Lalu seorang ibu yang bagaimanakah???? Sejenak mari untuk dibaca dan direnungkan sedikit apa yang telah saya tulis di sini, semoga bermanfaat.

Dari sini saya jadi teringat dengan sebuah pepatah Arab yang berbunyi, "Ibu adalah sebuah madrasah (tempat pendidikan) yang jika kamu menyiapkannya. Berarti kamu menyiapkan (lahirnya) sebuah masyarakat yang baik budi pekertinya."

Na'am... Dan petuah ini pulalah yang dibuktikan keberhasilannya oleh ibunda Imam Syafii Rahimahullah. Imam besar yang mazhabnya dianut oleh mayoritas umat Islam di Indonesia ini adalah hasil didikan perempuan hebat. Beliau dibesarkan oleh seorang ibu yang begitu sabar. Ketiadaan suami tidak membuat Ibunda Imam Syafi’i menyerah pada keadaan dan melupakan hak seorang anak untuk mendapatkan pendidikan terbaik dalam bidang agama. Kemiskinan pun tidak lantas membuatnya sungkan "melobi" seorang guru di al-kuttab (Sekolah Menghafal Qur’an) untuk curhat bahwa dirinya tidak memiliki biaya bagi sekolah Imam Syafi’i. Bayangkan karena tidak punya uang untuk membeli kertas, Imam Syafi’i sampai harus menulis di pecahan tembikar, tulang belulang, hingga pelepah kurma. Dan berkat kegigihan sang ibulah, guru di Al Kuttab itu merasa luluh. Imam Syafi’i lantas betul-betul memanfaatkan momen belajar yang telah dibuka oleh ketegaran seorang ibu. Bayangkan, Imam Syafi'i sudah hafal Qur'an sejak kecil dan di umur 15 tahun telah diizinkan untuk mengeluarkan fatwa. Subhanallah. Tanpa kehadiran seorang ibu, mungkin saat ini kita hanya mengenal nama Imam Syafi’i sebagai orang biasa, bukan ulama kesohor yang kejeniusannya dalam perkara fiqh menjadi peneman kita saat mengalami kebingungan dalam beribadah.

Islam sebagai agama mulia, secara tegas mengatur posisi wanita sebagai madrasah utama dalam pendidikan di rumah. Ibu, dalam Islam mendapat posisi penting sebagai guru pertama anaknya, dan bukan kakek dari anaknya, nenek dari anaknya, bahkan ayah dari anaknya sendiri. Maka itu peran istri dalam Islam bagai guru besar pendidikan pertama yang harus dihormati oleh suaminya. Al Qur’an sendiri secara jelas melekatkan peran mulia seorang ibu yang simetris dengan peranan membangun rumah tangga mulia.

Allah berfirman, "Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya." [Al Ahzab : 33]

Jadi mari kita persiapkan dari sekarang untuk madrasah terbaik untuk anak-anak kita kelak yaitu dengan mendidik anak-anak wanita, remaja wanita dan para istri agar mampu mengasuh dengan telaten, penuh ketaqwaan, kelembutan dan kesabaran dalam sunnah nubuwwah untuk mempersiapkan generasi robbani selanjutnya. Generasi pembawa panji-panji sunnah. Generasi pembela sunnah....
Wallahu a'lam....

Penulis,
Al Faqir Ilaa Maulahu

Abu 'Abdillah Rizwan

Post Comment

Poskan Komentar

Tinggalkanlah Komentar yang ahsan. Buuriktum Fiih....

 
Top