3
## Istiqomah di Atas Sunnah, Namun Futur dalam Beribadah....

## Bersemangat menuntut Ilmu, Namun lalai untuk beribadah (entah itu Sholat pada waktunya di masjid, atau Puasa sunnah, dan yang lainnya)


## Bersemangat Mendakwahkan Ilmu Namun Malas Untuk Menuntut Ilmu.

## Bersemangat Memberi Nasehat namun Malas Untuk melakukannya sendiri.
======================

Bismillah.......

Ibnul Qayyim berkata :
"Sesungguhnya diantara dampak negatif dosa adalah melemahkan perjalanan hati (seseorang) menuju negeri akhirat atau menghalanginya atau memutuskannya dari perjalanan itu. Dan kadang kala dosa juga bisa memutar balikkannya ke arah belakang (maksiat dan kekufuran). Hati itu akan berjalan menuju Allah dengan kekuatannya, jika hati itu sakit lantaran dosa-dosa lemahlah kekuatan yang menjalankannya". [al-Jawabul Kahfi hal 140]

Sejenak mohon untuk dibaca dan disimak serta direnungi tulisan ini walau mungkin tidak penting untuk Anda. Saya hanya menulis apa yang hendak saya tulis. Meringkas dan mengambil mana yang penting menurut saya untuk saya tulis di postingan saya kali ini. Semoga menjadi teguran bagi saya terutama, dan bagi Anda sekalian walau diri ini tidak pantas untuk bertutur ucap dalam hal menasehati Anda sekalian.....

Mungkin banyak di antara kita sudah bertahun-tahun tegar, teguh, dan istiqomah di atas sunnah. Semangat menuntut ILMU..... Yah ketika menuntut ilmu kita jadi ingat, bahwa yang namanya ilmu konsekuensinya adalah diamalkan lalu disebarkan.... Namun kadang sering ketika kita menuntut ilmu kita bersemangat untuk beramal, setelah selesai dan pulang ke rumah akhirnya lupa apa yang didapat. Kalau istilah JAWAnya itu BARLEN (BUBAR KELALEN) atau Setelah selesai Lupa.

Kita juga lupa mengamalkannya untuk diri kita sendiri namun entah mengapa kita semangat menyebarkannya tanpa melakukannya terlebih dahulu. alias JARKONI (BISO NGAJARI TP RA ISO NGLAKONI / bisa mengajari namun tidak bisa melakukannya sendiri). Wallahul Musta'an....

Kita nilai diri kita masing-masing. Apakah kita seperti itu?? Karena jujur saya pun merasakannya... Dan benar sangat-sangat menusuk dan menampar keras bagi diri saya sendiri.... Semoga dengan ini kita mampu lebih bersemangat lagi dalam beramal dan beribadah serta menuntut ilmu berada di atas Sunnah, istiqomah, tegar dan teguh di dalamnya.....

Ibnul Qayyim berkata :
"Sesungguhnya yang mendapatkan kesulitan dalam meninggalkan maksiat yang disukainya dan yang sering dilakukannya adalah seseorang yang meninggalkannya bukan karena Allah. Adapun seseorang yang meninggalkan hal tersebut dengan jujur, ikhlas dari hatinya karena Allah, ia hanya merasakan kesulitan di awal kali ia meninggalkannya. Ini semua untuk mengujinya, apakah ia jujur dalam meninggalkannya ataukah hanya berdusta, jika ia sabar dalam menghadapi kesulitan ini sebentar saja, ia akan memperoleh kelezatannya". [Al-Fawaid : 99]

Kita baca kembali semangat para Ulama Salafush Sholih semoga menjadi sarana membangun kembali semangat agar lebih membara.

Waki’ bin Al Jarroh rahimahullah berkata, "Al A'masy selama kurang lebih 70 tahun tidak pernah luput dari takbiratul ihrom."

Masya Allah, lalu di manakah kita? Tatkala mendengar adzan saja tidak dipedulikan. Apalagi seringnya telat dan bahkan sering menempati shaf terbelakang.

Al Qodhi Taqiyuddin Sulaiman bin Hamzah Al Maqdisi rahimahullah berkata, "Aku tidaklah pernah shalat fardhu sendirian kecuali dua kali. Dan ketika aku shalat sendirian, aku merasa seakan-akan aku tidak shalat."

Lihatlah penyesalan Sulaiman bin Hamzah di atas. Ia teramat sedih luput dari shalat jama’ah. Berbeda dengan kita yang tidak sesedih itu. Hati terasa tenang-tenang saja (tidak ada rasa menyesal) ketika shalat di rumah. Kalau kita teringat akan pahala shalat jama’ah yang 27 derajat lebih mulia dari shalat sendirian, tentu kita tidak akan meninggalkannya.

Muhammad bin Sama'ah rahimahullah berkata, "Selama 40 tahun aku tidak pernah luput dari takbiratul ihram (bersama imam) walaupun sehari saja kecuali ketika ibuku meninggal dunia."

Lihatlah Muhammad bin Sama'ah karena ada udzur saja beliau tinggalkan shalat jama’ah. Tidak seperti kita yang selalu kemukakan beribu alasan, sibuklah, ada tugaslah, dan alasan lainnya yang sebenarnya bukanlah udzur yang dibenarkan.

Dalam biografi Sa’id bin Al Musayyib rahimahullah di kitab Tahdzib At Tahdzib disebutkan, “Selama 40 tahun tidaklah dikumandangkan adzan melainkan Sa’id telah berada di masjid.”

Lihatlah semangat yang luar biasa, berusaha tepat waktu ketika shalat, berusaha ontime sebelum adzan. Tidak seperti kita yang masih asyik-asyikkan di depan TV atau komputer atau PC, yang masih asyik-asyikan bercanda dengan teman, yang lebih senang bersama dengan istri dan anak-anak. Wallahul musta’an.

Asy Sya’bi rahimahullah berkata, "Tidaklah adzan dikumandangkan semenjak aku masuk Islam melainkan aku telah berwudhu saat itu."

Lihatlah bagaimana semangat Asy Sya'bi yang selalu berusaha pula shalat on time, bahkan sudah berwudhu sebelum waktu adzan.

Ulama belakangan pun ada yang punya kisah demikian. Syaikh 'Abdul 'Aziz bin 'Abdillah bin Baz rahimahullah terkenal dengan semangat beliau dalam ibadah di samping beliau sudah ma’ruf dengan perbendaharaan ilmu diin yang amat luas. Beliau adalah orang yang rutin menjaga shalat sunnah rawatib, rajin menjaga dzikir-dzikir khusus dan rutin pula menjaga shalat malam (tahajjud).

Anak dari Syaikh 'Abdul 'Aziz bin Baz yang bernama Ahmad berkata, "Aku sudah lama mengetahui kalau ayahku selalu bangun tidur satu jam sebelum shalat shubuh dan ketika itu beliau shalat (tahajjud) sebanyak 11 raka’at (sudah termasuk witir, pen)."

Dan masih banyak kisah-kisah yang lain yang menakjubkan.

Dari sini maka sudah sepantasnya orang yang telah mengetahui suatu amalan agar semangat untuk mengamalkannya. Menuntut ilmu agama bukanlah sekedar tambah wawasan dan memperluas cakrawala. Hendaklah orang yang sudah mendalami ilmu agama berusaha lebih giat lagi dalam ibadah karena mereka adalah Qudwah (contoh) bagi yang lain. Jika orang yang menuntut ilmu agama telah semangat dalam kebaikan seperti ini, maka yang lain pun akan ikut termotivasi. Namun jika mereka-mereka saja malas, maka yang lain pun bisa terpengaruh kebiasaan buruk tersebut. Jadilah qudwah, jadilah teladan, barengkanlah ilmu dan amal. Tetap perdalam dan rajin menuntut ilmu diin disertai semangat mengamalkan ilmu tersebut. Ingat pula bahwa sebaik-baik amalan adalah yang kontinu walaupun sedikit.
Wallahu waliyyut taufiq.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat

Semoga bermanfaat dan menjadi pertimbangan bagi diri kita masing-masing dalam menjalankan hidup agar lebih terarah sesuai syari'at Islam. Insya Allah.... Dan mari kita saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran....
================

Terakhir saya ambil dari Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam:

من وجد خيرا فليحمد الله ومن وجد غير ذلك فلا يلومن إلا نفسه
(Man wa jada khoiron falyahmadillaah, wa man wa jada ghoiro dzaalik fa laa yaluumanna illaa nafsah)


"Barangsiapa yang mendapatkan kebaikan maka pujilah Allah. Dan barangsiapa yang mendapati selain daripada itu, jangan dia salahkan kecuali dirinya sendiri." [HR. Muslim No. 2577]



Penulis,
Al Faqiir Ilaa Mawlahu

Rizqianto Hermawan

Post Comment

Poskan Komentar

Tinggalkanlah Komentar yang ahsan. Buuriktum Fiih....

 
Top