0
## Kisah Menarik Menang Sebelum Berdebat.

"Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang jahat, yang telah ditetapkan terhadap syaitan itu, bahwa barangsiapa yang berkawan dengan dia, tentu dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka." [QS Al-Hajj: 3-4]
===============================

Bismillah.....

Dulu semasa hidupnya Imam Ahmad, ada sekelompok orang penganut paham atheis berusaha mengacaukan keimanan umat perihal adanya tuhan. Dengan dukungan argumentasi dan logika yang kuat, mereka berhasil memutar-balikkan fakta. Kata mereka, alam semesta terjadi dengan proses sendirinya, tanpa campur tangan Dzat Maha Tinggi (Allah). Alhasil manusia tidak perlu menyembah tuhan, sesuatu yang sebenarnya tidak ada, begitu nalar mereka.

Sudah banyak ulama yang berusaha meluruskan dengan cara mendebatnya. Tapi pendapat kaum atheis ini belum jua terkalahkan. Bahkan mereka semakin sombong dengan keingkarannya tersebut serta merendahkan orang-orang yang beriman.

Hingga datang tantangan berdebat dari seorang ulama' yang sangat sederhana yang tak lain adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Penampilannya sekilas tak menunjukkan bahwa ia seorang ulama' yang berilmu tinggi, namun kaum atheis tetap bersedia menerima tantangan berdebat dan mereka memberikan syarat yaitu harus diselenggarakan pada forum terbuka, dihadiri banyak orang. Dipilihlah waktu dan tempat yang disetujui bersama.

Pada hari H atau hari yang telah ditentukan itu, Imam Ahmad datang terlambat. Tentu saja ia dicaci maki oleh kelompok atheis dan penonton yang kesal menunggu.

Imam Ahmad berkata, "Sabar, sabar, beri aku kesempatan menjelaskan sebab keterlambatanku ini." ujarnya tenang.

Walau masih menggerutu, mereka menahan suara.

Kemudian Imam Ahmad menjelaskan, "Begini, perlu kalian ketahui bahwa saya tinggal di pinggiran kota. Antara kita dipisahkan sebuah sungai yang cukup lebar. Nah, ketika hendak kemari saya tidak mendapatkan kapal untuk menyeberang. Itu sebabnya saya terlambat datang.”

"Bagaimana Anda bisa tiba kemari kalau tidak mendapatkan perahu?" Tanya mereka heran.

"Sungguh ajaib," sahut Imam Ahmad, 

Kemudian Beliau melanjutkan, "Tiba-tiba selembar papan hanyut terapung-apung dan dengan sendirinya berhenti persis di depanku ketika aku kebingungan menyeberang di tepi sungai. Kemudian disusul oleh papan-papan lain yang juga hanyut lalu bergabung dengan papan pertama. Lantas tiba-tiba pula ada seutas tali. Papan-papan dan tali itu merakit diri dengan sendirinya sehingga menjadi sampan yang tahan dari kemasukan air. Nah, sampan kecil itulah yang menyeberangkan saya hingga sampai ke tempat ini dengan selamat." Ungkap Imam Ahmad panjang lebar.

Kelompok atheis tertawa terbahak-bahak. Salah seorang di antara mereka berkata ketus, "Aah, Anda membuat lelucon saja. Itu mustahil. Tidak masuk akal." 

Imam Ahmad menjawab santai, "Nah, kalau kalian mengingkari sampan yang kecil itu bisa merakit sendirinya, maka apakah mungkin alam semesta yang besar dan rumit ini terjadi dengan sendirinya tanpa peranan Allah subhanahu wa Ta'ala?”

Mereka terdiam, bungkam seribu bahasa dan berkeringat. Karena tidak menemukan jawaban yang tepat mereka pergi begitu saja. Seketika penonton bersorak sorai gembira, mengelu-elukan Imam Ahmad yang sederhana tapi amat cerdas. Hanya dengan logika yang amat sederhana, kelompok atheis kalah sebelum bertanding. Agaknya orang-orang atheis itu harus segera memilih antara DEBAT ATAU TAUBAT.

Subhanallah.... Yakinlah bahwa yang benar pasti akan menang, dan yang bathil pasti akan kalah. Belum berdebat saja mereka sudah kalah telak.

====================
Kisah kedua yaitu kisah Imam Abu Hanifah.

Mula Ali Al Qori berkata, "Ada kabar bahwa al Imam Abu Hanifah pernah didatangi orang ahli kalam (orang yang mendahulukan rasionya daripada al Quran dan Hadits), mereka ingin berdebat dengan al Imam Abu Hanifah tentang Tauhid Rububiyyah (Bahwa Allah yang menciptakan dan yang mengatur alam semesta)". 

Al Imam Abu Hanifah berkata, "Sebelum membahas masalah ini, ada orang yang memberitahukan kepada saya bahwa kapal di Sungai Dijlah (Sungai Tigris, Baghdad) itu berlabuh sendiri, ia yang mengangkut makanan, muatan, dan lainnya. Kapal itu pulang pergi ke pelabuhan, ia sendiri yang menurunkan barang dan muatannya, ia berlabuh berkali-kali tanpa seorang pun yang mengemudikannya. Bagaimana pendapatmu?"

Mereka menjawab, "Mustahil, tidak mungkin."

Beliau berkata, "Jika kapal tidak mungkin berlabuh, mengangkat, dan menurunkan barang dengan sendirinya tanpa ada yang mengemudikannya, maka bagaimana dengan alam semesta ini, langit dan bumi seisinya, tanpa ada yang membuat dan mengatur?"

Mereka hanya terdiam tanpa ada sepatah kata pun yang terucap untuk membantah hujjah dengan logika yang digunakan oleh Abu Hanifah.

Subhanallah.... Anak kecilpun ketika diberi sesuatu, dia bertanya, "darimana ini? Siapa yang membuatnya?" Fitrahnya meyakini bahwa setiap yang wujud pasti ada yang membuat. Maka orang yang mengingkari Allah Sang Pencipta alam tidak lain adalah orang yang menolak fitrah dan akal sehatnya.
Wallahu A'lam Bish Showab.....

Catatan: Hendaklah seseorang untuk menghindari debat jika Ilmu Belum mencukupi.

Dinukil dari Majalah Sabili dan Majalah Al Furqon.

Post Comment

Poskan Komentar

Tinggalkanlah Komentar yang ahsan. Buuriktum Fiih....

 
Top