0
Bismillah....
Alhamdulillah, postingan kali ini saya hendak menuliskan sedikit dari catatan-catatan saya dalam Kitab Lum'atul I'tiqod yang saya dapatkan dari Dars daripada Ustadzuna Abu Thoyyib Sa'ad Harits Hafidzhohulllahu Ta'ala (Alumni Darul Hadits Ma'rib, Yemen), dan nantinya akan saya tulis juga seterusnya -Insya Allah- jika diberi kesempatan, kemudahan dan kemampuan. Tidak menutup kemungkinana apabila postingan saya ini banyak sekali kekurangan, kelemahan dan keganjalan, karena minimnya ilmu yang ada pada diri saya, sedangkan saya hanya seorang penuntut ilmu biasa yang masih menjalani kerasnya menimba ilmu, maka dari itu kritik dan saran akan saya terima dengan senang hati namun dengan cara yang ahsan dan secara pribadi bukan di publik. 

Namun untuk kepentingan bersama dan agar kaum muslimin semuanya dapat mengambil faedah di dalamnya serta dalam rangka untuk mengamankan tulisan-tulisan saya ini apabila buku catatan saya suatu saat akan hilang. Semoga berkenan. Jazakumullahu khoiron katsiro.....


** Syarh Lum'atul I'tiqod **

"KAIDAH-KAIDAH PENTING UNTUK MEMAHAMI NAMA DAN SIFAT ALLAH"
- Bagian 1 -

A. Kaidah Pertama
Wajib seseorang memahami dengan mendiamkan nash-nash Al Quran dan Sunnah sesuai dhohirnya tanpa memalingkan kepada makna lain. 
Sebabnya adalah : 
1. Al Quran dari Bahasa Arab. Allah menurunkan Al Quran dengan Bahasa Arab. Dan Rasulullah pun berbicara menggunakan Bahasa Arab. maka sepatutnya kita wajib memahami Firman Allah dan sabda Rasulullah sesuai dengan kaidah Bahasa Arab.
2. Merubah atau memalingkan makna nash-nash dari dhohirnya sama saja ia mengatakan tentang Allah tanpa ilmu sebagaimana Firman Allah subhanahu wa ta'ala, 

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah: `Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui`.(QS. Al A'raf : 33)

Contoh dalam memaknai Firman Allah : 


 بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ
"(Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki." (QS. AL Maidah : 64)

Secara dhzohir ayat tersebut menerangkan bahwa Allah memiliki kedua tangan dengan makna sebenarnya. Maka sikap kita adalah menetapkan adanya dua tangan Allah tersebut. Jika ada orang memaknai kedua tangan Allah itu berupa kekuatan, kekuasaan, dll, berarti ia telah memalingkan makna dari dhzhirnya. Dan ini tidak boleh karena ia berbicara tentang Allah atas nama Allah dengan lancang tanpa ilmu dan hal ini dosanya lebih besar daripada dosa syirik. Karena sudah jelas bahwa " الأصل في الكلام الحقيقة " (Asal dari perkataan adalah haqiqoh)

Contoh : Seseorang yang memiliki raja, ia mengakui bahwa raja itu mempunyai sifat dan ia tunduk kepadanya, namun ia menjadikan raja tersebut sekutu yaitu ada raja lain dan ia tunduk juga kepadanya. Hal ini lebih baik daripada orang yang mengingkari raja tersebut dan mengingkari kekuasaan dan sifat raja tersebut sama sekali. (Perkataan Ibnu Qoyyim dalam Kitab Ad Daa' Wad Dawaa')

Nhah seperti halnya orang musyrik, yang mereka mengakui bahwa Allah sebagai Tuhan, akan tetapi ia menjadikan sekutu bagi Nya, hal itu lebih baik daripada seseorang yang tidak mengakui sama sekali dan mengingkari kekuasaan serta asma dan sifat Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Makanya Berbicara tentang Allah tanpa ilmu dosanya lebih besar daripada dosa orang yang melakukan kesyirikan.

Maka di sini diambil kesimpulan serta tingkatan kaidah dalam mengetahuinya:

** معرفة الشيء :

1. رؤيته (Melihatnya) : Maksudnya, apakah kita pernah melihat Allah secara langsung? Tentu jawabannya tidak, maka kita turun kebawahnya yaitu رؤية مثله (Melihat Semisalnya)

2. رؤية مثله (Melihat semisalnya) : Maksudnya adalah apakah kita pernah melihat yang semisal dengan Allah? Tentu jawabannya adalah tidak karena Allah dengan makhlukNya berbeda, maka kita turun ke kaidah berikutnya yaitu خبر العدل (Khobar dari orang yang dipercaya)

3. خبر العدل (Khobar dari orang yang dipercaya) : Maksudnya adalah Jika kita tidak bisa menemukan jawaban atau mengetahuinya dari kaidah pertama yaitu melihatnya secara langsung dan kaidah kedua yaitu melihat semisalnya, maka kita akan mendapatkan pengetahuan tentangnya dari orang yang 'adl atau dipercaya. Tentu orang tersebut adalah Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam. Dengannya kita mendapatkan khobar yang otentik dan jelas kita wajib mengimaninya karena beliaulah panutan kita.

================
Sementara itu dulu dari saya, Insya Allah akan berlanjut ke Kaidah kedua dalam memahami  Nama dan Sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Mohon doa dan dukungan antum sekalian. Jazakallahu khoiroon wa barakallahu fiikum.........

Selesai ditulis di postingan blog di Kartasura, Solo pada :
Hari & Tanggal : Rabu, 19 September 2012/ 3 Dzulqo'dah 1433 H
Pukul : 06.55 WIB

Penulis,
Al Faqir Ilaa Mawlahu

Abu 'Abdillah Rizwan

Post Comment

Poskan Komentar

Tinggalkanlah Komentar yang ahsan. Buuriktum Fiih....

 
Top