0
Bismillah...

Alhamdulillah, kali ini saya bisa melanjutkan postingan daripada "Syarh Lum'atul I'tiqod" yang saya dapatkan ketika belajar dengan Ustadzuna Abu Thoyyib Sa'ad Harits (alumni darul hadits bi ma'rib, yemen).  Yang sebelumnya saya telah memposting bagian pertama, bisa antum baca dan lihat di sini : Syarh Lum'atil I'tiqod, Kaidah Penting Untuk Memahami Nama & Sifat Allah Bag 1. Semoga bermanfaat.

Untuk mengingatkan bahwa, dilarang keras mencopas, mengambil, memperbanyak dan mengkopi artikel yang saya tulis tanpa mencantumkan sumber daripada artikel yang antum ambil. Karena tindakan ini merupakan tindakan dholim. maka jagalah hak keilmiyyahan daripada tulisan agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan di zaman yang penuh fitnah ini.

Mohon dijaga amanah dari saya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (Qs Al-Anfaal:27)


** Syarh Lum'atul I'tiqod **

"KAIDAH-KAIDAH PENTING UNTUK MEMAHAMI NAMA DAN SIFAT ALLAH"

- Bagian 2 -

A. Kaidah Kedua
Qoidah (ketentuan) yang berkaitan dalam masalah  Nama (asma) Allah. 

1. Nama/Asma Allah semuanya adalah baik  (أسماء الله كلها حسن)
Maksud dari kata "حسن (husna)" adalah sesuatu yang paling indah, paling baik. Karena nama Allah itu menunjukkan akan sifat yang paling sempurna dalam segala sisi tanpa cacat sedikitpun. Karena nama Allah itu musytaq, diambil dari sifat. Maka ini adalah nama dan sifat. Contohnya bahwa Allah itu memiliki nama "الرحمٰن" (Ar Rahman) maka disini juga menunjukkan akan sifat Allah itu Rahmah. Beda dengan makhluknya, misal manusia ada yang bernama Sholeh, namun belum tentu dia seorang yang sholeh, bisa jadi dia orang yang paling jahat, kejam, suka mencuri. Namanya 'Abdullah namun belum tentu dia orang yang bertauhid kepada Allah, bisa jadi ia orang yang paling berbuat syirik. Nhah di sinilah bedanya antara nama Allah dan nama makhlukNya. Karena nama Allah itu tercakup di dalamnya itu sifat dan sifatnya itu tidak akan menyelisihi nama Allah. Maka dikatakan bahwa "Allah dan Rasulnya itu adalah أسماء وأوصاف (nama dan sifat)", Jadi Allah dan para Nabi, namanya sesuai dengan sifatnya.

Maka keluar dari perkataan Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaymin, "Kaidah ini mengecualikan "الدّهر" Ad Dahr dari nama Allah karena tidak mengandung makna kesempurnaan. Adapun sabda Nabi, 

لَاتَسُبُّوا الدَّهْرَ فَإِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرَ
"Janganlah kalian mencela dahr (masa) karena Allah adalah Dahr." (Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, kitab Al Alfaazh Minal Adab bab "Larangan Mencaci Masa", Juz 5 no 2246 bersumber dari hadits Abu Hurairah Rahimahullah)

Maksudnya, Allah adalah Penguasa dan Pengatur dahr (masa) bukan sebagai nama Allah. Hal ini didukung oleh Sabda Nabi dalam riwayat lain, Allah berfirman,

بِيَدِي الْأَمْرُ أُقَلِّبُ اللَّيْلَ والنّاهَارَ
"Di tangan-Kulah seluruh urusan, Aku yang membolak-balikkan siang dan malam."
(Dikeluarkan oleh Al Bukhori dalam kitab Shahih-nya, kitab "Tauhid" bab "Firman Allah Ta'ala, 'mereka ingin mengganti kalam Allah'." Hadits no. 7491, juga dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, kitab Al Alfaazh Minal Adab bab "Larangan Mencaci Masa" (2/2246) dari Abu Hurairah)

Ibnu Hazm dan Nu'aim ibnu Hammad Al Khuza'i (Gurunya Imam Bukhari) dan sekelompok bersamanya/sebagian dari ahlul hadits dan sufiyyah mengatakan bahwa "الدّهر" (Ad Dahr) termasuk daripada nama Allah. Mereka memberikan makna "القديم، الأزالي" (yang telah lalu, tidak ada sesuatupun yang sebelumnya/mendahuluinya). Maka maknanya itu shohih/benar, akan tetapi yang diperselisihkan itu "Apakah Allah itu dinamakan dengan nama الدّهر (Ad Dahr)?" (Fatawa, 2/493-495) 

Jawabannya "BUKAN", sudah dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaymin di atas.

Maka diambil kesimpulan bahwa, 

فإن الله  هو الدهر، معنه : فاعل النوازل و الحوادث و خالق الكائنان
 (شرح مسلم : ٦/١٥)
Maka sesungguhnya Allah itu Ad Dahr, maknanya adalah "Allah Subhanahu wa Ta'ala yang menurunkan segala perkara dan segala musibah kemudian yang menciptakan segala sesuatu." (Perkataan Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim Jilid ke 15 halaman 6)
=============================================================
=============================================================

2. Nama Allah tidak terbatas dengan jumlah bilangan tertentu
Kaidah ini didasari atas sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang masyhur,

أسألك اللهمّ بكلّ اسمٍ هو لك سمّيتَ  به نفسك أو أنزلته في كتابك أو علّمْته أحدا من خلقك أو استأثرت به في علم الغيب عندك
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama-Mu yang Engkau gunakan untuk diri-Mu, yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan untuk diri-Mu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu." (Hadits Shohih, merupakan bagian dari hadits Ibnu Mas'ud rahimahullah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad (1/394.452) dan Ibnu Hibban dan Al Hakim, dishahihkan oleh Imam Ibnul Qoyyim, Syaikh Ahmad Syakir, Syaikh Al Albani, dan Syaikh Syu'aib al Arnauth)

Lalu bagaimana mengenai hadits shahih,

إن لله تسعة وا تسعين إسما من أحصاها دخل الجنة
"Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, barangsiapa yang menghitung dan menghapalnya maka pasti masuk surga." (diriwayatkan Imam Bukhori dalam kitabnya "Ad Da'awaat", Imam Muslim dalam kitab Adz Dzikr wad Du'aa', bersumber dari hadits Abu Hurairah)

Ibnu Hazm berpendapat bahwa nama Allah itu terbatas pada 99 nama (dalam kitab Al Muhalla) kemudian beliau menyebutkan ke 99 nama ini dalam Al Muhalla juga pada jilid ke 8 pada halaman 31 yang ditahqiq oleh Syaikh Ahmad Syakir, tentang Kitabul Aiman, bolehnya bersumpah dengan nama Allah, bahwa nama Allah itu ini dan ini hingga 99 nama, dan terakhirnya beliau menyebutkan Ad Dahr.

Kedua hadits di atas dikompromikan sehingga tidak bertentangan dengan mengatakan bahwa hadits "sembilan puluh sembilan nama, barangsiapa yang menghitung dan menghapalnya maka pasti masuk surga." bukanlah batasan jumlah.

Seperti contoh perkataan, "Saya memiliki satu juta rupiah yang saya siapkan untuk bersedekah". Perkataan ini tidak menafikan bahwa saya memiliki uang yang lain selain untuk sedekah.


Jumhur Ulama' berpendapat (dan ini yang roojih), bahwa nama Allah itu tidak terbatas pada 99 nama. Akan tetapi maksud hadits tadi maksudnya adalah pengkabaran bahwa orang yang menghapal dan mengamalkan ke 99 nama ini akan masuk surga bukan mengkabarkan bahwa nama Allah itu terbatas pada 99 nama. (Lihat Syarh Muslim (Jilid 17 hal 7, Kitab Fathul Baari (11/221), dan Dar-u At Ta'arudl larya Syaikh Ibnu Taimiyah (3/332)) 

** Madzhab Jumhur Ulama' yang lebih rojih (lebih kuat) karena:
1. Tidak ada penjelasan dan penjabaran/penyebutan tentang nama Allah dalam hadits yang shohih.Ada hadits dalam riwayat Tirmidzi, namun hadits ini adalah Hadits Dho'if, karena diriwayatkan oleh Al Walid Ibnu Muslim, dia seorang perowi yang Mudallis Taswiyah (mudalis yang paling parah).
2. Kalau kita katakan bahwa nama Allah itu sebagaimana yang berada dalam hadits riwayat Tirmidzi, namun di sana tidak ada disebutkan nama "Rabb", padahal nama "Rabb" ini termsuk nama Allah yang paling banyak dipakai baik dalam Al Quran maupun dalam Sunnah. Sehingga hadits ini bertentangan/menyelisihi dengan kenyataan. tapi memang hadits ini adalah hadits Dho'if.
3. Adanya penjelasan dalam hadits lain (yaitu : أو استأثرت به في علم الغيب عندك) artinya "atau yang Engkau rahasiakan untuk diri-Mu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu.". Nama Allah tidak dibatasi oleh 99 nama, karena nama yang disimpan dan dirahasiakan oleh Allah di dalam ilmu ghoib di sisinya tidak diketahui kecuali oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sebagaimana yang dipakai berdalil oleh Imam Al Khoththobi  dan yang selainnya. (Majmu' Fatawa jilid 22/481-486)

**Lalu, apa makna Al Ihshoo' (الإحصاء) itu?. Maknanya adalah:
- Kita memakai nama-nama Allah untuk berdoa (دعاء الله بها كلها)
- Kita mengetahui akan makna-maknanya (معرفة معانيها)
- Kita menjalankan hak-hak daripada nama-nama Allah dan mengamalkan dengan konsekuansinya (القيام بحق هذه الأسماء والعمل بمقتضاها), jadi bukan hanya menghafalkan saja.
[Majmu' Fatawa (11/228-229)]
=============================================================
=============================================================

3. Nama-nama Allah tidak boleh ditetapkan dengan akal tetapi harus dengan dalil syar'i
Penetapan nama Allah bersifat Tauqifiyyah, artinya harus dengan dalil syar'i, tidak boleh ditambah dan dikurangi. Karena akal tidak mungkin menjangkau semua yang menjadi hak Allah terkait dengan nama-namaNya, maka wajib membatasi/mencukupkan diri dengan dalil syari. yaitu kita tawakkuf. Dan juga bahwamenambah nama Allah (padahal Allah sendiri tidak menamakan dirinya dengan nama tersebut) atau mengingkari (mengurangi) nama yang telah Allah tetapkan untuk diriNya adalah sebuah pelanggaran terhadap hak Allah Ta'ala. Kita wajib memiliki adab yang baik kepada Allah.

Contohnya kita menamai Allah dengan sebutan arsitek alam semesta karena Allah lah yang membangun alam semesta dari galaxi-galaxi, bintang-bintang, bumi, semuanya sedemikian rupa. Padahal Allah sendiri tidak menamakan dirinya dengan nama tersebut, maka sepatutnya kita tidak lancang dan hendaknya wajib memiliki adab yang baik kepada Allah serta tidak mendahuluiNya.
=============================================================
=============================================================

4. Setiap nama Allah pasti menunjukkan (3 Hak) yaitu :

**Jika Lazim :
1. Menunjukkan akan keberadaan Dzat Allah Subhanahu Wa Ta'ala.
2. Menunjukkan adanya sifat yang terkandung dalam nama tersebut.

** Jika Muta'addi (membutuhkan Obyek/Maf'ul bih) :
3. Menunjukkan adanya atsar/pengaruh yang timbul dari nama tersebut.

Beriman kepada nama Allah harus memenuhi 3 hal tersebut di atas.

Sebagai contoh nama yang Lazim (bukan Muta'addi) :
Al 'Adzim (العظيم) : Keimanan kepada nama Allah Al 'Adzim baru sempurna jika:
1. Menetapkan AL 'Adzim sebagai nama Allah yang menunjukkan kepada dzat Allah,
2. Adanya sifat Al 'Udzmah (keagungan) yang terkandung dalam nama tersebut.

Contoh nama yang Muta'addi:
Ar Rahman (الرحمٰن) : Keimanan kepada Allah Ar Rahman baru sempurna jika :
1. Menetapkan Ar Rahman sebagai nama Allah yang menunjukkan kepada dzat Allah
2. Adanya sifat Ar Rahmah yang terkandung dalam nama tersebut.
3. Serta adanya pengaruh dari nama itu yaitu Allah merahmati siapa yang dia kehendaki.
=============================================================
=============================================================

Alhamdulillah, Sementara itu dulu dari kaidah-kaidah yang sebenarnya ada 4 kaidah dalam memahami Nama dan Sifat Allah. Insya Allah selanjutnya akan berlanjut ke kaidah yang ketiga sekaligus kaidah yang keempat. Maka dari itu saya memohon doa antum sekalian agar saya diberi kemudahan dan kemampuan serta kesempatan untuk menulisnya. Jazakumullahu khoiron katsiroo wa barakallahu fiikum.... Wallahu waliyyut taufiq..... Nas'alullahal 'afiyah lanaa wa lakum........

Selesai ditulis di postingan blog di Kartasura, Solo pada :
Hari & Tanggal : Rabu, 19 September 2012/ 3 Dzulqo'dah 1433 H
Pukul : 20.05 WIB

Penulis,
Al Faqir Ilaa Mawlahu

Abu 'Abdillah Rizwan

Post Comment

Poskan Komentar

Tinggalkanlah Komentar yang ahsan. Buuriktum Fiih....

 
Top