0


Generasi salaf adalah generasi yang memiliki hati yang amat lembut. Sehingga hati mereka mudah tergugah dan menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Terlebih tatkala membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.

Ketika membaca firman Allah:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu” [Al-Ahzab : 33]


Subhanallah..... begitulah tangis ummul mu'minin 'Aisyah Radhiyallahu 'Anha yang sudah dijamin masuk surga namun beliau masih saja takut akan adzab Allah jikalau beliau melanggar syariat Allah (di sini dala konteks untuk berdiam diri di dalam rumah)..... Mereka langsung ta'at, sami'na wa atho'na tanpa berfikir panjang, tanpa banyak alasan, dan tanpa banyak bualan langsung mlaksanakan apa yang Allah dan RasulNya perintahkan. .... Tangisan yang tidak pernah ada bandingannya dibanding umat-umat setelahnya....

Lalu bagaimana dengan antunna wahai akhowaty fillah??? Silahkan koreksi diri kita masing-masing......

*************************

 Tangis ‘Aisyah Radhiyallahu 'Anha  Saat Peristiwa Haditsul Ifki (Kabar Burung)

Al-Qasim menuturkan, “Jika aku pergi, maka aku mampir terlebih dahulu ke rumah Aisyah untuk mengucapkan salam kepadanya. Suatu hari aku pergi, ternyata ia berdiri dalam keadaan bertasbih dan membaca firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, ‘Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari adzab neraka.’ (Ath-Thur: 27).

Ia berdoa dan menangis seraya mengulang-ulang ayat tersebut, sehingga aku jemu berdiri, lalu aku pergi ke pasar untuk keperluanku. Kemudian aku kembali, ternyata ia masih berdiri seperti sediakala dalam keadaan shalat dan menangis.”

Itulah Aisyah Ummul Mu'minin Radhiyallahu 'Anha  yang dizhalimi orang-orang muslim menurut zhahirnya, padahal mereka sebenarnya adalah kaum munafik, dalam peristiwa berita dusta yang nyaris menghancurkan rumah tangga Nabi Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam dalam peristiwa yang menyakitkan dari pihak kaum munafik dan kaum yang berakhlak buruk yang tidak memperhatikan bahwa dia adalah istri Nabi  Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam  dan bahwa dia dizhalimi, padahal dia lebih suci daripada mereka. Tetapi ini adalah fitnah yang sepanjang zaman selalu menampakkan bisa dan kuman yang ingin mencemari orang-orang bersih dan orang-orang baik secara zhalim dan dusta. Tetapi orang yang dizhalimi tidak bisa berbuat apa-apa selain menuju dan bersandar ke haribaan Allah  Subhanahu wa Ta'ala . Berapa banyak kita mendengar manusia hina memfitnah orang-orang baik dengan tuduhan dusta padahal mereka terbebas dari semua tuduhan tersebut, kecuali karena mereka kaum yang shalih, mendapatkan taufik dan meraih kesuksesan. Manusia yang hina, mereka sebenarnya bukanlah manusia, tetapi setan pengecut yang dengki dan hasad terhadap setiap orang yang diberi taufik oleh Allah  Subhanahu wa Ta'ala . Orang-orang yang mengigau ini tidak mempunyai senjata kecuali memberitakan melalui berbagai surat kabar kaum sekuler yang hina seperti mereka. Mereka lupa bahwa Allah  Subhanahu wa Ta'ala  Memberikan balasan lagi Mahaperkasa, Dia menangguhkan dan bukan membiarkan. Mahabenar Allah, ketika berfirman, “Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan.” (Thaha: 61).

Dusta adalah senjata kaum pengecut, kaum munafik, dan manusia yang hina. Karena itu, Aisyah menangis siang malam, karena masalahnya sungguh menyakitkan, mengapa orang yang tidak bersalah dan tidak pernah menyakiti siapa pun dituduh.

Lebih terkutuk dari kezhaliman ini adalah menuduh berzina wanita yang baik-baik lagi beriman. Kemudian datang pembebasan terhadap Ummul Mu'minin Aisyah Radhiyallahu 'Anha dari atas tujuh langit di dalam al-Qur’an yang akan selalu dibaca hingga Hari Kiamat, sehingga setiap munafik lagi pendusta terdiam. Demikianlah Ummul Mu’minin terbebas dari berita dusta yang ditebarkan oleh kaum munafik yang tidak menginginkan kebaikan tetapi menginginkan fitnah. Bagi Merekalah hukuman di dunia dan akhirat, serta mereka diancam al-Qur’an dengan adzab yang pedih. Maha Benar Allah  Subhanahu wa Ta'ala , ketika berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagimu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya adzab yang besar.”(An-Nur: 11)

Demikianlah air mata Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu 'Anha tumpah demi mengharapkan pahala dan berlindung kepada Dzat yang tiada tempat berlindung kecuali kepadaNya sehingga dia mendapatkan pembebasan dari Allah  Subhanahu wa Ta'ala .

Semoga menjadi bahan renungan untuk kita semua terutama para akhowat agar Allah senantiasa memberikan hidayah dan barokah di setiap kehidupan yang hari demi hari kita jalani di zaman yang penuh dengan fitnah ini.

Nas'alullahal 'Afiyyah Lanaa wa Lakum........

*******

catatan :

as-Samth ats-Tsamin fi Manaqib Ummahat al-Mu’minin, Abu al-Abbas Ahmad ath-Thabari, hal. 90


Penulis,
Al Faqir Ilaa Maulahu

Abu 'Abdillah Rizwan

Post Comment

Poskan Komentar

Tinggalkanlah Komentar yang ahsan. Buuriktum Fiih....

 
Top