0
Alkisah seorang lelaki bernama Yahya ibnu Yahya dari Andalusia menuntut ilmu ke Madinah. Ia berguru pada sang guru bernama Imam Malik. Pada suatu waktu tibalah sekelompok rombongan yang entah berasal dari mana membawa gajah yang pada saat itu gajah merupakan binatang yang masih asing di sana. Murid-murid Imam Malik pun berhamburan keluar ingin melihat gajah tersebut. Maklum mumpung ada kesempatan langka, maka meski saat itu sedang berlangsung suatu majelis, keluarlah murid-murid Imam Malik, kecuali satu orang yang tak beranjak dari tempat duduknya sedikitpun.Hingga semuanya keluar Yahya bin Yahya tetap ditempatnya, seperti tak ada sesuatu yang menarik di luar sana. Ya, begitulah Yahya. Melihat yang demikian Imam Malik mendekat, “Mengapa engkau tidak keluar juga untuk melihat gajah?” tanya Imam Malik. Yahya menjawab, ” Aku jauh-jauh datang dari Andalusia untuk menuntut ilmu, bukan untuk melihat gajah.” Imam Malik sangat kagum pada pemuda ini, yang mengutamakan imlu dari pada kesenangan sesaat di luar sana, dan karena keteguhan Yahya ini beliau menggelarinya ‘aqilu Andalus’ (lelaki berakal dari Andalusia).
Subhanallah… sebuah kisah menarik yang patut diambil hikmahnya. Betapa Yahya telah meletakkan prinsipn mendasar di atas jalan hidupnya. Ia mengerti sedang dijalan apa berlalu dan kemana ia akan menuju. Ia seperti tengah menegaskan, betapa ia tidak boleh berhenti oleh sesuatu yang sederhana di luar kehendak cita-citanya. Seandainya ia pun turut menyaksikan gajah-gajah itu sejenak, tentu itu juga tidak akan jaadi persoalan besar, karena Imam Malik tentu juga tidak akan melanjutkan pelajarannya karena semua muridnya keluar ruangan. Tapi tidak untuk Yahya yang begitu teguh pendirian ini. Ia begitu memahami konsistensi, dan mampu menahan godaan yang kadang menghentikan. Maka pantaslah ia digelari ‘aqilu Andalusia’.

MARI KITA BERKACA…….
Betapa sering perjalanan hidup kita terhenti. Bahkan oleh hal-hal yang tidak serius. Betapa banyak orang berhenti dari mengejar cita-cita, kehendak mulia, mimpi-mimpi fantastis, hanya karena keteledoran, menyimpang yang mulanya hanya iseng, atau karena ulau mental ’nanti dulu’. Akhirnya lama kelamaan jiwanya mulai layu, semangatnya mulai redup. Gairah berkaryanya mulai kering. Akhirnya iapun terhenti dari segala harapan yang telah menanti diujung kerja kerasnya.
Begitulah seorang muslim semestinya menata jalan cita-citanya. Semua orang punya harapan, jauh atau dekat, tinggi atau rendah. Tetapi menjadi seorang muslim yang tak mengenal kata henti dalam berjalan, berusaha, berkarya,adalah pilihan keimanan untuk tujuan nun jauh diakhirat sana. Sebab diatas arah jalan itu hidup seorang muslim menjadi punya arti.

Sahabat, betapa sering kita terhenti dari aktivitas meraih cita-cita kita hanya lantaran persoalan sepele yang sebenarnya mampu kita atasi. Sering azzam kita tergoyahkan hanya karena keteledoran kita, dan ulah menyimpang kita yang mulanya hanya iseng belaka dan akhirnya memudarkan semangat dan gairah berkarya. Alhasil, cita-cita itu tinggal harapan yang tak terwujud di penghujung kerja kerasnya.
Menjadi mahasiswa atau pelajar atau santri, sudahkah membuat hidupmu untuk mengejar yang pasti???

Keberartian dan kepastian tidak diperoleh dalam waktu yang singkat. Tidak pula dengan usaha yang setengah-setengah. Orang-orang besar di dalam tarikh umat Islam yang gemilang, menjadi besar karena mereka tidak pernah lelah menabung untuk investasi keberartiannya, hari demi hari, waktu demi waktu, detik demi detik.

Imam Bukhari setiap malam bisa terbangun hingga dua puluh kali, untuk menuliskan hadits-hadits yang dihapalnya. Ia tidak pernah berhenti untuk menjadi berarti. Maka ia memetik jerih payah itu. ia menjadi maha guru ahli hadits sepanjang masa.

Imam Nawawi. Bila seluruh usianya dibagi dengan karya tulisnya, maka setiap hari ia telah menulis tidak kurang dari enam belas halaman manuskrip. Bila diurai menjadi buku-buku masa kini, setiap halaman manuskrip itu bisa menjadi berlembar-lembar halaman.

Ibnu Hajar Al- Asqalani, ulama besar pengurai Shahih Bukhari, ia menghabiskan seperempat abad usianya untuk mennuliskarya monumentalnya, Fathul Bari.

Na'am kepastian itu adalah Keridhaan Allah dan Jannah Allah yang tinggi, semua yang ada di sisi Allah kekal adanya. Mampukah kita untuk mengejar dan menggapainya?

Cita-cita luhur, kehendak kuat untuk menjadi seorang muslim yang bermakna tak boleh terhenti oleh apapun. Kita harus terus mengejar, dan tak boleh mudah menyerah. Karena hasil ditentukan Allah, dan kita harus berusaha dengan lengkah terbaik untuk mencapainya. Wallahu a’alam bisshowab…

Post Comment

Poskan Komentar

Tinggalkanlah Komentar yang ahsan. Buuriktum Fiih....

 
Top