1
[Pemadam Kelaparan: "Hakekat Kuntilanak"]

Berawal dari mencari ikan malam-malam di parit bersama Bang Muji dan para santri di sebuah pondok yang ketika itu beraliran Sufi Tarekat di sebuah pedalaman Kabupaten Pontianak. Ketika menyusuri parit, tak hanya sekali kami melihat ular sedang berjemur seperti bule-bule di pantai. Padahal ular tersebut sedang di air. Penampakan (kasyf) semacam itu membuat hadir dalam batin ini hasrat (iradah) untuk lebih mendalami hakikat dan makrifat tentang ular.

Deminya, maka mulailah esok-esok hari merantau sendiri susuri parit-parit. Bermodalkan senter dan rasa penasaran. Kadang setelah Maghrib. Di pondok itu, kadang terjadi kesurupan, terutama di asrama santriwati. Asrama santriwati memang agak gimana gitu. Sebelah selatannya ada pohon asem (kalau ga salah), dan ada bangunan mantan WC. Kalau melam, gelapnya minta maaf. Kalau siang, sepinya tiada maaf. Konon, kadang di ruang kelas, berseliweran bola-bola api. Sekitar pondok itu memang tidak ada rumah, melainkan kebun-kebun liar. Aslinya memang hutan. Dan sebenarnya masih hutan juga. Cerita-cerita aneh masih berlalu lalang kala itu. Suasana malamnya sunyi tenang. Tapi, aransemen dari jangkrik, burung-burung malam dan gonggongan anjing di kejauhan menyentuh perasaan. Indah sekali.

[ASAL USUL KUNTILANAK]

Area yang paling mencekam dan menggoda hati adalah parit dekat kamar mandi putri yang mengapung di atas air itu. Selain super gelap, sepi, bertapa sendirian di sana akan membuat perasaan diri selalu diintai. Seolah ada yang sedang memperhatikan dari atas pohon. Anggap saja itu Kuntilanak. Tidak apa-apalah. Namanya juga kota Pontianak. Pontianak itu ya nama sebutan untuk hantu (setan) yang gentayangan dengan rupa perempuan berdaster putih. Kita mengenalnya: Kuntilanak. Padahal aslinya: Pontianak.

Jadi, Kuntilanak itu aslinya 'hantu' Melayu, terutama di kabupaten ini. Dahulu, salah satu pemimpin daerah ini ketika sedang menyusuri Sungai Kapuas, sering diganggu oleh jin-jin berbentuk seperti perempuan memakai daster putih.

Nah, di sinilah setan menyerang aqidah dan keyakinan. Yang kemudian, berlanjut pada ritual-ritual bid'ah dan syirik. Kuntilanak itu asalnya Pontianak. Pontianak itu kepanjangan dari "Perempuan Mati Beranak". Perempuan = Puan. Puan lawan kata Tuan. Puan dibaca cepat menjadi Pon. Maka jadilah: Puantianak = Pontianak. Mungkin beberapa anak Pontianak menyangkal ini. Tapi, ya terserah saja.

Setan merubah wujudnya menjadi penampakan perempuan terbang ke sana ke mari dengan tertawa cekikikan. Nah, sebenarnya Kuntilanak itu ya Sundel Bolong juga. Bedanya begini:

[PERBEDAAN ANTARA KUNTILANAK DAN SUNDEL BOLONG]

Kuntilanak itu lebih umum dari Sundel Bolong. Keumumannya ada di dua hal:

[1] Tiap Sundel Bolong adalah kuntilanak, tapi tidak setiap Kuntilanak adalah Sundel Bolong; karena tidak semua kuntilanak mempunyai bolongan di bagian tengah tubuh.

[2] Sundel itu ya wanita 'kotor'. Pelacur. Sundel Bolong itu pelacur yang mati dengan anak hasil perzinahan. Beda dengan keumuman Kuntilanak. Kuntilanak itu perempuan mati karena mengeluarkan anak, atau ketika sedang mengandung anak.

Persamaan keduanya ya sama-sama setan. Sama-sama tipuan setan. Setan membentuk pocongan ya agar diyakini bahwa empu kubur bangkit dari kuburnya; sehingga diyakini gentayangan, penasaran, kelaparan dan agar disediakan makanan. Intinya ya setan kepingin menusia MELAYANI setan. Makanya, ada ruwatan, 40 harian, haulan dan semacamnya yang memberi tumbal atau makanan, toh? Pas banget, kan?

Begitu juga dengan Kuntilanak dan Sundel Bolong. Memang, kadang setan hanya iseng-iseng saja menakut-nakuti. Setan paling senang melihat manusia takut kepadanya.

[KUNTILANAK DI UI?]

Kalau di UI (Universitas Indonesia), memang pas sekali tempat mangkal Kuntilanak. Makanya, tak sedikit cerita-cerita di kampus 'angker' yang isinya hutan ini, berkaitan erat dengan mistis Mbak Kunti. Terutama di Menara Air; yang dikabarkan beberapa sumber (termasuk penjual makanan yang saya tanya), bahwa di kedalaman semak dan hutan di lahan Menara Air itu sebenarnya kuburan.

Sebenarnya kuntilanak itu kurang mikir. Kalau memang mati beranak, kenapa kok senangnya terbang di pohon? WKWK. Dan yang lebih jelek lagi, suara kuntilanak itu sebenarnya mirip monyet. Saya malah curiga, jangan-jangan rata-rata setan yang merubah wujud menjadi kuntilanak adalah setan monyet atau kera sakti.

Kadang kuntilanak magang menjadi Suster Ngesot. Kadang Kuntilanak magang menjadi Sundel Bolong. Kadang Kuntilanak malah beralih profesi menjadi Kalong Wewe. Sebenarnya maunya apa sih?

[1] Untuk menakut-nakuti manusia.
[2] Untuk merusak aqidah/keyakinan manusia tentang alam kubur.
[3] Untuk menundukkan manusia.

Seseram-seram kampus UI dan hutannya, sebenarnya yang layak ditakutkan itu ya binatangnya di malam hari, seperti ular besar ataupun anjing penjaga hutan. Selain itu, yang lebih layak diwaspadai adalah tindakan kriminal. Misalnya di area kandang rusa pada malam hari, terlebih di atas jam 9. Area itu nyaris tidak dilewati manusia karena sepi, hening, dan seyem-nya. Bahkan, mungkin saja setan juga takut lewat tempat itu, saking seyem-nya. Namun, area itu sebenarnya paling enak untuk jadi pangkalan penjahat dan perampok. Makanya, pernah ada kejadian seorang mahasiswa lewat area itu sendiri malam-malam, bangun-bangun sudah ada di tengah hutan. Sebelumnya, ia 'dipingsankan' dan seluruh barang miliknya dirampas.

Ini yang layak ditakuti. Pelakunya tidak mungkin kuntilanak, karena kuntilanak tidak berprofesi sebagai perampok. Kuntilanak hanya bertugas terbang, tertawa, menangis dan berpakaian agak sopan. Pelakunya tidak mungkin juga pocong, karena tangannya tak mampu. Pelakunya adalah manusia yang jahat, yang bisa jadi malah mahasiswa kelas setan kongkalikong dengan orang-orang luar.

[APAKAH THE RED LADY ITU KUNTILANAK?]


Ada ikhtilaf (perbedaan pendapat) di antara para juhala' dalam mendeskripsikan The Red Lady. Ia adalah jenis 'hantu' yang terkenal di UI sedari dulu. Dikatakan, ia memakai gaun merah. Ada yang bilang, matanya juga bersorot merah. Sebenarnya tidak masalah dia mau pakai gaun merah atau matanya merah. Masalahnya, dia ini sebenarnya siapa sih? Kok punya karakter semacam itu?

Dia ini simple-nya: setan dari bangsa jin. Singkat, toh?

Lalu, "Kenapa punya karakter merah semacam itu?"

Jawaban: Ketahuilah, anak-anak, setan itu paling suka jika ada keyakinan baru yang menyimpang. The Red Lady itu bisa jadi perwujudan palsu dari beragam jin, tidak dia-dia saja. Namanya juga jin, diberi kemampuan untuk berubah wujud di pandangan manusia, dengan izin Allah.

Nah, simpang siurnya info asal usul The Red Lady dan tidak jelasnya, menunjukkan sebenarnya yang membuat karakter itu ya setan itu sendiri, kemudian setan jadikan itu penampakan rutin, atau berkala, atau berkali, sehingga manusia pun berfikir, 'Wah, The Red Lady itu adalah mayat gentayangan begini begitu...'

Makanya, di UI sendiri kadang para juhala berijtihad untuk menelusuri sejarah The Red Lady berdasarkan atsar dan khabar yang sanadnya terputus dan tidak mungkin disambung. Selain perawinya seringkali majhuul, atau mubham, kadang perawinya malah muttaham bi so'tahu. Akhirnya, cerita-cerita tentang asal usul The Red Lady berseliweran dan semuanya tak berdasar pada fakta yang valid tak terbantahkan.

Dan sebagian menganggap The Red Lady adalah kuntilanak.

Well, bukan. The Red Lady beda. Sama-sama kelihatan female, namun bukan kuntilanak; karena kuntilanak adalah perwujudan jin terhadap perempuan mati beranak. Sedangkan The Red Lady bisa jadi perwujudan jin terhadap perempuan mati kecelakaan, atau mati dibunuh setelah diperkosa; sebagaimana yang saya dapatkan dari sumber yang berdosa jika dipercaya.

Sumber : KLIK DI SINI

Post Comment

Poskan Komentar

Tinggalkanlah Komentar yang ahsan. Buuriktum Fiih....

 
Top