0
Syaikh Dr. Khalid Al Mushlih, Beliau bercerita sendiri dalam muhadharah beliau, ketika beliau masih berstatus mahasiswa di al qashim, beliau mendatangi majlis syaikh al ‘utsaimin. setelahnya dari majlis tersebut, beliau menghampiri syaikh ‘utsaimin yang hendak pulang ke rumah syaikh ‘utsaimin, karena syaikh ‘utsaimin selalu berjalan kaki dari rumah ke tempat kajian begitu pula sebaliknya. ditengah jalan pemuda itu nekat memberanikan diri untuk bertanya, ‘syaikh apakah antum mempunyai anak perempuan?’

Ketika mendengar pertanyaan pemuda tersebut, syaikh ‘utsaimin berubah mimik mukanya dan bertanya, ‘ada apa akh?’,pemuda itu menjawab, ‘kalau ada, ana berniat meminangnya, bolehkah ana meminangnya?…

lalu apa yang dilakukan syaikh utsaimin? apakah beliau bertanya usaha bapak kamu apa? kamu sudah hafal hadits berapa? sebelumnya kamu lulusan apa? gaji kamu berapa? tabungan kamu berapa?

Bahkan syaikh ‘utsaimin tidak memberikan sebuah pertanyaanpun kepada pemuda ini, syaikh ‘utsaimin hanya berkata, “Tunggulah kabar dariku, Insya Allah akan aku telephon…”

Lalu dalam hari-hari penantian kabar tersebut, pemuda ini mengalami kegelisahan juga, satu hari berlalu, dua hari berlalu, hingga sepekan berlalu, beliau bertanya dalam hati, “apakah syaikh lupa ya, perlukah saya mengingatkannya?”, namun pemuda ini teringat perkataan syaikh yang menyuruhnya menunggu…

Hingga akhirnya sebulan setelah peristiwa itu ada telephone yang dialamatkan ke asrama, namun kebetulan pemuda ini sedang kuliah. akhirnya dari pihak asrama menyampaikan ke pemuda ini bahwa beliau dicari oleh syaikh ‘utsaimin…

Dalam hati dia bertanya, “kenapa ya syaikh ‘utsaimin mencariku?” karena ternyata pemuda ini sudah agak pesimis dan bahkan agak terlupakan…

Ketika beliau telp syaikh ‘utsaimin, beliau bertanya, “ada apa syaikh?” 

Syaikh Utsaimin berkata, “ana ingin melanjutkan pembicaraan kita waktu itu akhi?”, 
“pembicaraan yang mana syaikh?” tanya pemuda,

“pembicaraan ketika anta menyusul ana di jalan… akhi silahkan kamu lanjutkan prosesnya?!!!” Kata Syaikh Utsaimin Tegas,

Pemuda itupun terkejut, ternyata syaikh ‘utsaimin masih mengingatnya dan beliaupun akhirnya membalas pernyataan syaikh ‘utsaimin dengan terbata-bata,
“syaikh, perkenankan ana mengabari orang tua ana terlebih dahulu untuk kelanjutannya…”,

“silakan akhi, ana tunggu kedatangan kalian…”
karena ternyata pemuda yang bermodal nekat ini juga belum memberitahukan orangtuanya kalau beliau hendak melamar anak syaikh ‘utsaimin…

Pertanyaannya adalah apa yang dilakukan syaikh ‘utsaimin selama satu bulan tersebut?
Inilah adab ‘ulama yang harus dicontoh oleh wali seorang anak perempuan…
Syaikh ‘utsaimin ternyata menyelidiki sendiri tentang pemuda ini, dari pergaulannya, bagaimana dimata teman-temannya, dimata gurunya, bagaimana keseriusan dalam belajarnya, prestasinya di kampus, latar belakang keluarganya… itu beliau lakukan sendiri…?!!!

Bukannya langsung ditanyakan kepada pemuda itu di tempat itu dan saat itu juga… Dan akhirnya setelah mengetahuinya dengan jelas, barulah beliau memutuskannya setelah bermusyawarah dengan keluarga beliau pastinya…

Pemuda ini adalah Syaikh Dr. Khalid Al Mushlih.

“Maasyaa Allaah…”

Post Comment

Poskan Komentar

Tinggalkanlah Komentar yang ahsan. Buuriktum Fiih....

 
Top